Uncategorized

Liburan Hipster, bagian pertama.

Catatan: Sesungguhnya masih nggak yakin apakah saya bisa menulis dalam bahasa Indonesia, tapi kalau nggak dicoba ya nggak bakal tahu juga hasilnya gimana.


Alkisah saya dan RAM memutuskan untuk liburan pada penghujung tahun ini, selain karena saya sudah keburu ambil cuti tahunan dan bakal rugi banget kalau nggak dipakai untuk jalan-jalan, saya dan RAM juga pengen liburan ala-ala (sungguh, saya nggak mau banget menyebut liburan kami sebagai bulan madu, genggeus pakai banget, asli!). Berhubung kami anaknya nggak mau rugi (saya sih sebetulnya yang nggak  mau rugi serta pemalas total), kami sepakat untuk liburan ke Bandung. Hasil diskusi panjang lebar dengan teman saya yang sudah berdomisili di Bandung sejak beberapa tahun yang lalu (code name beliau adalah Kach), saya memutuskan minta tolong Kach untuk dibuatkan itinerary liburan Hipster. Saya mau nginep dan makan di tempat yang lagi hits di kalangan kawula muda Bandung (tapi ada disclaimer penting, saya nggak mau di tempat yang banyak dedek-dedek gemes). Nah, postingan berseri ini adalah pengalaman dan sekelumit review saya. Jom lah!

Hari Pertama!

Makan siang di Malah Dicubo!

Tempat makan yang satu ini adanya di pasar (yang pastinya saya udah lupa juga namanya apa) yang deket sama pintu keluar Stasiun Hall yang ke arah Pasar Baru. Tempat ini terkenal, jadi harusnya kalau nanya sama orang-orang sekitar pasti tahu. Sedikit anekdot soal reaksi saya pas si Kach bilang kalau harus makan di sana, “Kok, gue malah diajak ke restoran Padang?” Eits, rupanya saya salah banget udah sotoy dan mempertanyakan pilihan si Kach. Dalam perjalanan menuju Bandung, di atas Argo Parahyangan, saya menyempatkan diri untuk ngecek si Malah Dicubo ini, ada loh reviewnya di Trip Advisor dan reviewnya bagus!

Pas sampai, saya langsung tahu apa yang saya mau, DENDENG BATOKOK! Coincidentally, menurut Kach, si dendeng ini memang menu favorit. Tapi nggak mudah untuk menikmatinya, karena tempat ini rame banget! Ya, saya datengnya pas jam makan siang juga sih. Kesabaran memang buahnya manis, akhirnya ada pelanggan yang cabut dan langsung kami gempur meja yang udah kosong itu. Kach langsung pesan tiga dendeng batokok, tiga nasi, dua es teh manis, satu es jeruk, dan satu ayam gulai (yang ini pesanan saya sendiri, karena saya anaknya emang rakus dan maruk seperti itu).

Edan bener itu si dendeng enaknya. Sambal ijonya itu loh! Bawang merahnya juga ampun! Asli! Sumpah! Enak benerNggak ngerti lagi musti ngasih review yang gimana untuk menggambarkan kelezatan dendengnya.

Nah ini dia penampakan dendeng batokoknya. Mohon maaf foto yang ditampilkan merupakan hasil comotan dari IG Stories saya, soalnya kalau udah makan enak, bisa inget untuk tetap eksis di dunia maya aja udah syukur banget. Jadi mohon maaf itu kudu ada yang disensor dulu biar identitas asli si Kach sama si RAM nggak terbongkar gitu, kan belum tentu yang bersangkutan berkenan. Yang lupa didokumentasikan adalah penampakan kerupuk jangek yang udah direndem sama kuah gulai. Kebiasaan keluarga saya kalau menyajikan kerupuk jangek itu pakai sambal cabai merah, tapi ternyata pakai kuah gulai enak juga. Buat yang bingung apa itu kerupuk jangek, itu adalah kerupuk kulit sapi. Konon kerupuk kulit sapi itu bagus loh buat penderita maag, tapi jangan pakai cabai atau kuah gulai kali yah pas dimakan.

Overall, 10/10 lah buat Malah Dicubo. Musti banget mampir ke sini kalau ke Bandung, apalagi kalau ke Bandung naik kereta, mending sekalian aja dikunjungi. Catatan buat saya, nanti kalau ke Malah Dicubo lagi, mungkin jangan pas jam makan siang kali, ah.


Nginep di Oliver’s Hostelry

Tempat menginap yang menawarkan jasa bed and breakfast ini ada di Ciumbuleuit (asli, saya ngecek Google sampai tiga kali buat ngeja tulisan Ciumbuleuit yang benar). Arahnya itu masih setelah Unpar, masuk dari Jalan Neglasari. Intinya, pakai google maps deh kalau ke Bandung bawa kendaraan sendiri, dijamin pasti ketemu. Kalau ke Bandung naik angkutan umum, teteup sok pakai google mapsnya, karena pasti ketemu.

Saya sih yakinnya udah nggak bakal kaget pas nyampe di TKP, wong udah riweuh lihat-lihat dulu di internet soal tempatnya. Nyatanya pas nyampetetep aja kaget. Kenapa? Karena tempatnya bagus banget. Adem dan sepi, jauh dari keramaian pinggir jalan. Meskipun ada kafe di lantai bawah, tapi nggak pernah bising. Musik yang dimainkan juga enak, jadi sama sekali nggak terganggu. Nah, pas check-in, kami diminta untuk pilih mau nginep di kamar yang mana (si Mas-nya udah nandain kamar mana aja yang available). Berhubung saya suka warna navy dan saya pengen tingkat level hipster liburan ini dimulai sejak dini, saya pilih kamar yang ada ornamen kapal dan huruf-huruf X-nya (pas lihat sih kelihatannya kayak huruf X, ternyata emang huruf X tapi maksudnya bukan untuk dilihat sebagai huruf X, kayaknya yah).

Ternyata kamar-kamar di Oliver’s ini selain ada penomerannya, juga ada namanya, dan setiap kamar nuansanya itu beda-beda. Kamar pilihan saya namanya Song to the Siren, dan setelah saya perhatikan, kayaknya nama-nama kamarnya itu adalah judul lagu; selain si Song to the Siren yang kayaknya adalah lagunya si Tim Buckley, ada Wonderwall dan Moon River juga. Sisanya saya udah nggak ngecek lagi, karena males.

Review saya soal si Oliver’s ini 8/10 lah. Tempatnya oke banget, kalau memang pengen liburan yang tenang dan jauh dari bisingnya kota besar, cocok banget kalau ke Oliver’s. Buat saya yang agak kurang adalah pilihan channel tv-nya. Saya jarang nonton sih kalau lagi nginep, tapi pas lagi kepengen dan pilihannya sedikit, agak mengecewakan juga yah. Tapi bukan hal yang buruk kok.

Karena si Oliver’s ini bed and breakfast, jadi pas sarapan pun dianterin ke kamar. Sehari sebelumnya, saya sudah pesan menu sarapan saya dari tiga pilihan yang disediakan. Pilihannya ada semacam telur dengan salad dan toast (yang tentunya saya sudah lupa juga namanya apa), oriental fried rice (ini favorit saya, dua malam terakhir saya pesan ini terus buat sarapan), dan french toast. Saran saya, selalu sampaikan pesanan buat sarapan sehari sebelumnya, karena kalau tidak, besar kemungkinan sarapan yang disediakan random diantara tiga pilihan yang tersedia. Dulu si Kach pernah nginep di Oliver’s juga dan nggak menyampaikan pilihan menu sarapan, jadi besok paginya dia dapat random aja.

Ini bentuk sarapan hari pertama yang saya lupa namanya. Kami nambah orange juice dan teh karena kami pikir nggak bakal dikasih minum (kami memang anaknya norak dan suka males nanya, lebih milih sotoy).

Kalau penasaran sama bentuknya si oriental fried rice, nampaknya saya akan mengecewakan, karena saya sama sekali nggak kepikiran untuk mendokumentasikannya (padahal dua kali berturut-turut pesan menu yang sama). Jujur saking enaknya, langsung llep aja .


Ngeteh sembari baca buku di Kedai Teko

Kedai Teko ini jaraknya cuma 170 m saja dari si Oliver’s. Setelah power nap, kami langsung jalan kaki ke Kedai Teko untuk menghabiskan waktu menunggu jam makan malam. Untuk bisa menemukan tempat ini, mata kudu awas banget, karena Kedai Teko ini nggak pakai plang sama sekali. Penandanya itu cuma semacam batu yang bertuliskan “Kedai Teko” dan jam operasionalnya; di atas batunya ada cangkir dan teko. Sempat khawatir juga kalau ternyata ini bukan Kedai Teko yang dimaksud sama si Kach, bisa berabe kalau ternyata saya sembarangan masuk ke pekarangan rumah orang. Pas masuk, alamak sepinya; cuma ada dua orang lagi ngaso sambil ngopi. 

Rupanya, memang Kedai Teko ini tempat yang sepi banget. Semakin cocoklah sama tipe orang kayak saya yang nggak demen sama keramaian. Menurut Kach, di Kedai Teko yang paling terkenal itu tehnya, dan berhubung saya memang lebih suka teh daripada kopi, say pesan teh dan chips and salsa (tergoda sama tulisan homemade saucenya).

Meskipun chips yang dimaksud itu bukan beneran chips kayak bayangan saya (bayangan saya chipsnya itu semacam kentang goreng yang dari kentang bulet gitu) tapi saya nggak kecewa, karena homemade saucenya enak banget. Campuran bawang dan (kayaknya) air cukanya pas banget. Saya akhirnya malah sibuk ngegado bumbunya ketimbangan makan chipsnya.

Nilai plus dari Kedai Teko adalah suasananya. Saya duduk di salah satu pendopo yang tersedia, sambil minum teh anget, menikmati pemandangan sekitar yang penuh dengan pohon yang tinggi, bener-bener bikin adem banget. Seandainya ada tempat kayak gini di Jakarta, mungkin saya nggak bakal se-cranky saya sehari-hari (mungkin loh yah, mungkin).

Salah satu hal kecil tapi justru malah yang bikin saya betah banget di Kedai Teko adalah tidak adanya background music. Saya anaknya sih suka musik, tapi kalau lagi pengen duduk dan menikmati secangkir teh sambil baca buku atau ngobrol dengan teman yang tenang, kayaknya keberadaan background music tuh ganggu banget, apalagi kalau musiknya nggak sesuai dengan mood dan ambience tempat nongkrongnya. Kedai Teko bener-bener bikin saya bisa menikmati teh saya, buku saya, dan teman ngobrol saya.

Saking menikmatinya tenangnya Kedai Teko, RAM dan saya sampai lupa kalau kami masih ada satu destinasi terakhir untuk hari pertama liburan hipster kami, makan malam.


Makan malam gelap-gelap di Wild/Grass

Begitu dapat tempat duduk, saya langsung kirim foto TKP ke seorang kawan yang sedang berdomisili di luar negeri, komentarnya, “Hipster banget tempatnya!” Observasi yang tepat sekali! Gaya bangungan yang agak industrial vintage memang bikin tempat ini semacam teriak HIPSTER banget sih. Sejujurnya saya pas sampai di sana berasa out of place. Kayaknya tempat ini terlalu fancy buat RAM dan saya yang cuma pakai kaos kumel dan jaket butut. Sempat memutuskan untuk balik badan dan delivery McD aja deh buat makan malam. Ternyata pas mau masuk, kami “disambut” sama sekumpulan turis mamah muda yang sibuk foto-foto di depan plang Wild/Grass. Kami berdua langsung menghembuskan nafas lega karena kami nggak bakal disangka turis, dan akhirnya memutuskan untuk makan di Wild/Grass.

Raspberry Lemonade

Sesungguhnya pas sampai Wild/Grass itu saya masih kenyang, tapi khawatir kalau nanti malam laper dan nggak ada makanan gimana? Setelah bolak-balik menu karena nggak ada yang bikin selera (masih kebayang dendeng batokoknya Malah Dicubo soalnya), saya pilih pesan cheesy fries (tergoda sama potongan dagingnya, yang padahal itu potongan daging cuilik tenan) dan raspberry lemonade. Makin keki pas lihat cajun chicken yang dipesan sama RAM, kayaknya enak banget. Untungnya minumam pilihan saya nggak mengecewakan. Rasanya segar banget, ya meskipun kayaknya kurang pas juga yah buat minuman malam-malam. Minuman lain yang nggak kalah segarnya adalah minumannya si RAM (yang lagi-lagi saya lupa namanya apa, si RAM juga lupa, tapi saya ada fotonya sih).

Minuman yang dipesan RAM, tapi kami lupa namanya.

Overall, Wild/Grass ini okelah. Meskipun nuansanya hipster banget dan saya yakin seandainya saya dateng pas weekend, ini pasti penuh sama dedek-dedek gemes, tapi value for money-nya okelah. Uang yang dikeluarkan worth it dengan makanan dan minuman yang dipesan. Tapi terus terang tempatnya kurang oke sih kalau mau duduk-duduk dan baca buku (masih terpesona sama Kedai Teko soalnya).


Nah, sekian dulu bagian pertama liburan hipster RAM dan saya. Bagian keduanya akan saya post dalam beberapa hari ke depan (kalau nggak males). Mohon izin nih,  saya akan keluar kota dulu, jadi kalau nggak dapet koneksi internet, ya berarti tambah lama lagi deh update bagian dua liburan hipster kami.

Kalau ada yang berminat untuk mengunjungi salah satu dari destinasi yang sudah kami kunjungi tapi merasa postingan saya nggak helpful sama sekali karena saya lebih banyak lupa dan malesnya, jangan ragu untuk googling, karena tulisan untuk semua tempat yang sudah saya kunjungi ada banyak banget dan tentunya lebih kredibel dari hasil observasi ala kadarnya yang penuh kemalasan dari saya. Tapi, tetep tunggu bagian keduanya yah!

cheers-dilchh

Advertisements

5 thoughts on “Liburan Hipster, bagian pertama.”

  1. Tsaaahh yang bulan madu hipster abisss hehehe
    Wah cuyyy kemaren wiken juga gw mampir bandung dan baca review gw jadi kzl kenapa enggak ditulis dari kemaren karena jadi pengen tinggal di oliver juga hahha
    Btw, gw juga suka wildgrass, meaning gw resmi masuk kategoru anak hipster bandung yah?

    Like

    1. Yaudah Fik, next time lo kudu ke Oliver’s. Kabarin nanti lo ambil kamar yang mana. Daerahnya enak banget, cocok buat yang udah uzur kayak kita, pengennya yang tenang gitu. Hahaha

      Like

    1. Duuuuudeeeee! You da best! Thanks for the words of encouragement! Wish me luck for the next part. I think it’s going to be a three part posts, so bear with me. 😬

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s