Uncategorized

Liburan Hipster, bagian kedua

Setelah menunda karena malas yang tergolong akut dan kesibukan yang sebetulnya nggak sibuk banget tapi biar keren jadi bilang saja saya memang sibuk, akhirnya terkumpul juga semangat untuk menulis bagian kedua dari liburan hipster RAM dan saya (nyatanya mengumpulkan semangat saja udah lebih susah daripada menulisnya). Without further ado, ini bagian kedua!

Makan siang bersama anak-anak kecil di Miss Bee Providore

Menu pilihan RAM, (seperti biasa, saya lupa namanya) sejenis Fish and Chips tapi nggak pakai tepung dan chipsnya diganti mashed potato.

Menurut review di internet yang saya baca, restoran yang satu ini punya tempat yang nyaman banget untuk dining bersama keluarga. Awalnya saya pesimis, lah wong tempatnya deket banget sama Wild/Grass, yang menurut saya dari segi lokasi dan suasana biasa aja. Memang adem karena banyak pohon-pohon yang tinggi, tapi belum cukup masuk kategori nyaman pakai bangetEh, tapi lagi-lagi saya salah, karena ternyata Miss Bee Providore ini memang tempatnya nyaman banget, apalagi kalau buat makan bersama keluarga. Sayangnya, saking children friendly ya isinya banyak banget anak kecil. Mungkin karena memang pas lagi liburan sekolah juga sih pas saya ke sana. Saran saya, kalau kurang suka sama anak kecil, jangan ke sini pas weekend atau pas libur sekolah; makanan dan suasana yang enak agak kurang terasa karena ketiban sama kerusuhan anak-anak kecil yang teriak dan berlarian ke sana kemari.

Di tengah-tengah makan baru inget mau foto, berhubung kondisi sudah kurang oke buat difoto, jadi sebagian aja lah yang difoto. Ini si classic fish and chips.

Menu masakan di Miss Bee Providore ini kayaknya enak-enak semua deh. Saya pesan classic fish and chips, yang sebetulnya enak, sayangnya saya yang sebetulnya udah keburu eneg sama makanan goreng-gorengan malah jadi kurang menikmati menu yang saya pesan sendiri, ya karena eneg itu. Tapi karena takut mubazir, saya kupas tepungnya dan saya makan ikannya saja. Kesalahan kedua dalam memilih menu adalah saya pesan satu bakul (nggak bakul gede sih, tapi berhubung waktu itu memang udah eneg sama goreng-gorengan, jadi kesannya si bakul tuh gede bangetonion rings. Sebagai catatan, onion rings-nya enak  loh sebetulnya, karena beneran yang onion ring klasik, sayangnya yang kerasa sama saya cuma minyak saja saking udah eneg sama makanan yang digoreng.

Penampakan Fruity Arancione yang rasanya beneran buah campur whipped cream, kalau menurut lidah ndeso saya.

Di tengah rasa eneg yang merajalela dan suara bising courtesy of anak-anak kecil yang berlarian, saya mendadak dapat ide cemerlang untuk pesan kue dengan harapan bisa menghilangkan rasa eneg plus emang kabita aja lihat kue-kue yang dipajang. Berhubung saya memang kurang adventurous soal makanan, saya pilih Hokkaido Cheese Cake, dengan harapan pasti rasanya…. ya rasa normal cheesecake pada umumnya. RAM minta pesan kue yang ada buahnya, alhasil saya pesankan Fruity Arancione. Now, don’t get me wrong, saya nggak bilang cheesecake-nya nggak enak, tapi saya lumayan kecewa sih, karena ternyata rasanya nggak se-klasik yang saya bayangkan. Rasanya itu cenderung…. unik? Saking kecewa karena rasa tidak sesuai harapan, saya cuma buru-buru ngunyah karena nggak mau mubazir dan alhasil lupa ngambil fotonya.

Penilaian akhir saya, saya tetap mau coba balik ke Miss Bee Providore lagi, tapi di waktu dan moment yang tepat, biar bisa menikmati menu pilihan saya dengan tenang dan nggak bolak-balik teriak ke RAM, “Hah? Hah? Ngomong apa sih? Nggak kedengeran.”

Makan malam di Kobe Tepanyaki dan terkejut melihat keramaian yang mirip onsen di Spirited Away

Harusnya sebelum RAM dan saya makan malam di Kobe Tepanyaki ini, kami tuh ada itinerary nongkrong cantik di Kineruku sambil baca buku, namun apa daya kombinasi deadly dari gorengan dan kue super manis (menurut lidah ndeso kami) membuat kami tepar tak berdaya dan akhirnya memilih tidur siang lanjut sampai sore sambil ngosongin perut persiapan makan malam di Kobe. Untung sih kami memilih istirahat perut dulu, karena ternyata pas di Kobe Tepanyaki, kami lagi-lagi kalap dan pesan segala rupa menu.

Kobe Tepanyaki ini ada di Cibadak (google aja, daripada berharap pada arahan jalan dari saya yang bisa dijamin akan lebih banyak ngaco-nya dari betulnya). Daerah ini ternyata ada banyak banget tempat makan, yang paling khas sih menu-menu makanan yang ada babinya, tapi ada banyak juga menu lain, seperti wedang ronde misalnya. Surprisingly, si RAM malah nemu mainan mobil Tomica di daerah Cibadak ini. Menurut penjelasan Kach, daerah makan Cibadak ini cuma buka pas malam hari. Nggak heran pas saya ke sana, ramenya chaotic banget. Lebih shock lagi pas sampai di Kobe Tepanyaki, edan meuni rame pisan, sampai hampir nggak dapet tempat duduk kalau si Kach yang sampai duluan nggak nge-tag buat kami.

Mengintip penampakan chicken katsu, chicken teriyaki dan udang cumi cabai.

Kami (RAM dan saya) si maruk langsung pesan steamboat special Kobe (satu porsinya bisa untuk dua orang, bisa untuk tiga juga sih kalau nggak pada maruk kayak RAM dan saya), udang cumi cabai garam, chicken katsu, chicken teriyaki dan tahu panggang cabai. Selesai membacakan pesan kami ke si Teteh Kobesi Teteh balik nanya ini pesanan buat berapa orang. Kami jawab buat berdua, si Teteh langsung kaget dan bilang sebaiknya ada menu yang dibatalkan saja, soalnya ini banyak bangetCih saya merasa si Teteh meragukan kemampuan makan kami, tapi ya kami manut aja, alhasil si tahu kami batalin.

Jom berkunjung ke tautan ini untuk lihat secara slow motion bentuk dan isinya si steamboat special kobe.

Jeng jeng jeeeenggg…. rupanya oh rupanya si Teteh nggak bohong! Makanannya memang banyak! Lagi-lagi demi azas jangan sampai mubazir, RAM dan saya dengan penuh kesabaran (meskipun udah penuh banget perutnya) menghabiskan semua menu yang kami pesan, simply karena kami anaknya memang maruk dan sotoy.

Secara keseluruhan, kalau nggak perlu pakai macet pas ke Cibadak, saya mau balik lagi untuk makan di Kobe Tepanyaki. Rasa makanan yang sederhana tapi enak dan mengenyangkan bener-bener bikin balik ke zaman kuliah dulu di Jatinangor. Informasi tambahan, meskipun restoran ini kelihatannya sederhana banget, tapi tetap modern karena pelanggan bisa bayar pakai debit kalau uang tunainya kurang atau lupa bawa. Saya sengaja mampir ATM dulu sebelum ke Kobe Tepanyaki karena saya kira nggak bakal bisa debit, yah lagi-lagi saya salah lah.

Malam-malam dicuekkin Abang wedang ronde di Waroeng Djahe

Setelah kenyang di Kobe Tepanyaki, si Kach maksa kalau kita harus coba wedang ronde langganan dia yang enak banget yang tempatnya persis di seberang Kobe Tepanyaki. Naasnya, malam itu si Abang wedang ronde lagi nggak jualan karena lagi libur (entah si Abang libur apa). Karena udah terlanjur ngebayangin hangat wedang ronde, akhirnya kita berempat (plus satu temannya Kach) menyusuri jalan Cibadak mencari orang yang jualan wedang ronde. Tiga Abang wedang ronde yang kita samperin semuanya udah sold out (ada konspirasi apakah malam itu wedang ronder nampaknya laku sekali?)

Begitu sudah sampai ujung jalan Cibadak, kami berempat sudah siap menyerah dan kembali ke peraduan masing-masing saja. Temannya Kach pamit duluan, dan kami bertiga menyusuri jalan Cibadak mencari jalanan yang agak ramai untuk pesan Uber. Sembari mencari meeting point yang enak sebelum pesan Uber, kami nemu toko yang bernama Waroeng Djahe, yang (surprise nggak surprise) jualan wedang ronde! Dengan semangat kami masuk ke tokonya, meskipun sempat curiga kalau tokonya mungkin udah mau tutup, karena saat itu sudah jam 10 malam.

Tokonya kecil dan dibuat bernuansa toko ala-ala pecinan gitu (mohon maaf nih, saya kala itu udah mulai ngantuk karena kekenyangan jadi udah nggak semangat lagi buat foto-foto). RAM didelegasikan untuk memesankan wedang buat kami bertiga. Layaknya orang yang sudah terlalu girang karena berhasil nemu wedang ronde, kami bertiga duduk dan ngobrol sambil menahan kantuk. Tunggu punya tunggu, kok wedang ronde yang dinantikan nggak muncul juga. Mulai khawatir juga nih jangan-jangan si Abang atau si Teteh wedang ronde lupa sama pesanan kami. Setelah sejam lebih kami duduk termangu menanti wedang ronde yang tak kunjung tiba, RAM pergi menanyakan pesanan kami. Rupanya oh rupanya pesanan kami tuh udah jadi tapi sayang suara si Teteh waktu memanggil namanya RAM kayak suara motor (alias nyaris tak terdengar), jadi kami duduk aja macam kambing congek nungguin wedang yang baru muncul sejam kemudian.

Wedang ronde hasil nunggu sejam lebih

Overall, menurut saya wedang rondenya biasa aja. Memang hangat banget sih, tapi yah nggak ada yang spesial sih, selain dekorasi tempat makannya yang unik dan berwarna-warni. Selain itu dari segi pelayanan juga agak kurang, karena di tengah tempatnya yang ramai pengunjung (yang tentunya pada sibuk ngobrol dan ketawa), si Teteh memanggil nama pelanggan dengan suara yang terlampau halus sehingga pelanggan bisa nggak sadar kalau sudah dipanggil. Ditambah lagi, karena mereka memang buat semuanya fresh dan by order, jadinya kalau ada satu pelanggan yang pesan borongan, nah pelanggan yang setelahnya siap-siap apes aja karena bisa dua bulan purnama lagi kali baru dapat wedang rondenya (nggak deng, itu saya aja yang lebay, tapi asli bakal lama banget sih nunggunya kalau pelanggan sebelumnya order borongan gitu).

Sekian hari kedua liburan hipster RAM dan saya. Mari berharap saya nggak malas untuk menulis bagian ketiga dan bagian terakhir dari liburan hipster ini. Duh, sungguh nggak menyangka kalau menulis dalam bahasa Indonesia itu selain susahnya minta ampun yah.

cheers-dilchh

 

Advertisements

1 thought on “Liburan Hipster, bagian kedua”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s